Pertumbuhan online shopping di Indonesia cukup pesat, dan kurangnya kejahatan melalui internet juga menyebabkan kepercayaan dan kenyamanan yang semakin tinggi terhadap online shopping (Perkembangan Toko belanja Online di Indonesia, 2013). Masyarakat di Indonesia semakin terbiasa dengan penggunaan internet termasuk untuk berbelanja. Hasil surveiyang dilakukan oleh Ipsos (perusahaan riset pasar independen yang dikelola oleh periset profesional, didirikan di Perancis kini memiliki kantor di 84 negara) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa 69% pengguna Internet di Indonesia melakukan pencarian web untuk mencari produk yang ingin mereka beli,serta dari jumlah total responden sebanyak tersebut 48% melakukan pembelian barang secara online (Hasil Survei Ipsos dan Peluang Bagi Pelaku Jual-Beli Online, 2012). Menurut Allis Ghim (Direktur eBay) bahwa nilai perdagangan lewat internet di Indonesia tahun 2009 saja sudah mencapai US$ 3,4 miliar atau sekitar Rp 35 triliun. Jumlah pengguna internet yang mencapai 17 juta dan nilai e-commerce sebesar 3,4 milyar dolar AS dinilai sebagai sebuah pasar online yang potensial dan jumlah tersebut terus berkembang dalam tahun-tahun berikutnya (Darmawan dan Chandrataruna, 2009).
Pertumbuhan yang besar dalam transaksi online konsumen di Indonesia tersebut juga tidak terlepas dari berbagai perangkat teknologi komunikasi yang mendukung. Hasil survei MasterCard tahun 2013 di 14 pasar Asia dan Pasifik mendapatkan temuan bahwa aplikasi mobile banking memiliki tingkat awarenesst ertinggi yaitu sebesar 45%, diikuti oleh 2 aplikasi belanja melalui jejaring sosial sebesar 34%, aplikasi belanja untuk permainan (game) sebesar 33% dan SMS/MMS berbasis pembayaran sebesar 31% (Joice, 2013).
Temuan lain dari survei MasterCard tahun 2013 bahwa telah terjadi peningkatan penting dalam berbelanja menggunakan smartphone. Indonesia berada di peringkat teratas dengan lebih dari separuh responden (54,5%) menggunakan smartphone mereka untuk berbelanja dalam tiga bulan terakhir. Sedangkan urutan kedua adalah masyarakat di negara China sebesar 54,1% dan masyarakat di Thailand sebesar 51% (Joice, 2013).
Data yang relatif sama juga diungkapkan oleh hasil survei Nielsen Online tahun 2012 bahwa lebih dari 85% populasi online dunia telah menggunakan internet untuk pembelian. Di Indonesia, setengah dari pembeli online menggunakan Facebook (50%) dan jejaring sosial Kaskus (49,2%) untuk membeli barang, mulai produk fashion, elektronik,buku, hingga peralatan rumah tangga (Setyawati, 2012). Perilaku belanja konsumen online di Indonesia berdasarkan pada hasil hasil survei Nielsen Online tahun 2012, ditemukan bahwa produk fashion paling diminati dalam belanja online. Hasil survei serupa juga dilakukan oleh Litbang Kompas tahun 2012 bahwa sebanyak 33,5% responden pernah melakukan online shopping. Barang yang mereka beli adalah produk fashion atau pakaian, termasuk aksesoris dan sepatu (60,8%).
Berdasarkan pada karakteristik demografis konsumen yang melakukan online shopping, sebanyak 53,2% adalah konsumen dengan pengeluaran lebih dari Rp 2 juta per bulan. Berdasarkan pada pekerjaan konsumen ternyata sebesar 33,9% adalah karyawan swasta, sebesar 19,4% adalah wiraswasta, dan konsumen dengan pekerjana pelajar/mahasiswa adalah sebesar 19,9% (Setyawati, 2012).
Berdasarkan pada karakteristik demografis konsumen online di Indonesia tersebut, ditemukan bahwa konsumen yang berbelanja bukan hanya konsumen yang sudah bekerja dan berpenghasilan, namun konsumen dengan status pelajar atau mahasiswa juga tertarik pada online shopping dan bahkan persentasenya lebih besar dari konsumen dengan pekerjaan wiraswasta. Berdasarkan pada temuan ini, ternyata pada tahun sebelumnya yaitu 2010, Delafrooz et al.(2010) sudah melakukan penelitian mengenai perilaku belanja online mahasiswa di Malaysia. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat enam variabel yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap sikap konsumen pada online shopping. Enam variabel tersebut adalah kenyamanan (convenience), harga (price), banyaknya pilihan barang (wider selection), nilai utilitas (utilitarian), layanan pelanggan (customer service), dan kesenangan (fun) (Delafrooz et al., 2010:144). Secara teori, kenyamanan (convenience), harga(price), banyaknya pilihan barang(wider selection), layanan pelanggan(customer service), dan kesenangan (fun) masuk dalam kategori perceived benefits. Sedangkan utilitas (utilitarian) masuk kategori personalities (Delafrooz et al., 2010:139).
Pertumbuhan yang besar dalam transaksi online konsumen di Indonesia tersebut juga tidak terlepas dari berbagai perangkat teknologi komunikasi yang mendukung. Hasil survei MasterCard tahun 2013 di 14 pasar Asia dan Pasifik mendapatkan temuan bahwa aplikasi mobile banking memiliki tingkat awarenesst ertinggi yaitu sebesar 45%, diikuti oleh 2 aplikasi belanja melalui jejaring sosial sebesar 34%, aplikasi belanja untuk permainan (game) sebesar 33% dan SMS/MMS berbasis pembayaran sebesar 31% (Joice, 2013).
Temuan lain dari survei MasterCard tahun 2013 bahwa telah terjadi peningkatan penting dalam berbelanja menggunakan smartphone. Indonesia berada di peringkat teratas dengan lebih dari separuh responden (54,5%) menggunakan smartphone mereka untuk berbelanja dalam tiga bulan terakhir. Sedangkan urutan kedua adalah masyarakat di negara China sebesar 54,1% dan masyarakat di Thailand sebesar 51% (Joice, 2013).
Data yang relatif sama juga diungkapkan oleh hasil survei Nielsen Online tahun 2012 bahwa lebih dari 85% populasi online dunia telah menggunakan internet untuk pembelian. Di Indonesia, setengah dari pembeli online menggunakan Facebook (50%) dan jejaring sosial Kaskus (49,2%) untuk membeli barang, mulai produk fashion, elektronik,buku, hingga peralatan rumah tangga (Setyawati, 2012). Perilaku belanja konsumen online di Indonesia berdasarkan pada hasil hasil survei Nielsen Online tahun 2012, ditemukan bahwa produk fashion paling diminati dalam belanja online. Hasil survei serupa juga dilakukan oleh Litbang Kompas tahun 2012 bahwa sebanyak 33,5% responden pernah melakukan online shopping. Barang yang mereka beli adalah produk fashion atau pakaian, termasuk aksesoris dan sepatu (60,8%).
Berdasarkan pada karakteristik demografis konsumen yang melakukan online shopping, sebanyak 53,2% adalah konsumen dengan pengeluaran lebih dari Rp 2 juta per bulan. Berdasarkan pada pekerjaan konsumen ternyata sebesar 33,9% adalah karyawan swasta, sebesar 19,4% adalah wiraswasta, dan konsumen dengan pekerjana pelajar/mahasiswa adalah sebesar 19,9% (Setyawati, 2012).
Berdasarkan pada karakteristik demografis konsumen online di Indonesia tersebut, ditemukan bahwa konsumen yang berbelanja bukan hanya konsumen yang sudah bekerja dan berpenghasilan, namun konsumen dengan status pelajar atau mahasiswa juga tertarik pada online shopping dan bahkan persentasenya lebih besar dari konsumen dengan pekerjaan wiraswasta. Berdasarkan pada temuan ini, ternyata pada tahun sebelumnya yaitu 2010, Delafrooz et al.(2010) sudah melakukan penelitian mengenai perilaku belanja online mahasiswa di Malaysia. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat enam variabel yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap sikap konsumen pada online shopping. Enam variabel tersebut adalah kenyamanan (convenience), harga (price), banyaknya pilihan barang (wider selection), nilai utilitas (utilitarian), layanan pelanggan (customer service), dan kesenangan (fun) (Delafrooz et al., 2010:144). Secara teori, kenyamanan (convenience), harga(price), banyaknya pilihan barang(wider selection), layanan pelanggan(customer service), dan kesenangan (fun) masuk dalam kategori perceived benefits. Sedangkan utilitas (utilitarian) masuk kategori personalities (Delafrooz et al., 2010:139).
Perceived benefit memiliki pengaruh terhadap sikap pada online shopping karena berbagai keuntungan yang bisa didapatkan konsumen mendorong konsumen bersikap responsif terhadap online shopping sehingga tertarik melakukan pembelian. Demikian halnya dengan orientasi utilitas, sebagaimana dinyatakan oleh Kim dan Shim (2002) dalam Delafrooz et al.,(2010:138): “Utilitarian shoppers shop online based on rational necessity which is related to a specific goal. ”Artinya bahwa pertimbangan rasional dari tujuan tertentu ternyata mempengaruhi sikap yang positif dari online shopping. Konsumen memiliki pertimbangan yang logis terkait dengan toko online dan hal ini mendorong konsumen memiliki sikap yang responsif terhadap online shopping. Obyek penelitian yang dipilih adalah Zalora Indonesia yaitu sebuah toko online Indonesia yang menjual produk fashion khususnya shoes dan pakaian baik lokal maupun internasional. Secara lebih terinci produk-produk yang dijual meliputi: sepatu, pakaian, busana muslim, tas, aksesoris, batik, dan sport serta produk beauty dan grooming. Zalora Indonesia adalah pusat fashion di Indonesia dengan wawasan trend fashion global. (Zalora Indonesia,2014).
Beragam produk yang dijual oleh toko online Zalora Indonesia tersebut adalah produk-produk dengan mode dinamis dan banyak diminati oleh kalangan muda termasuk mahasiswa. Pelanggan yang berbelanja melalui situs ini tidak dikenakan biaya pengiriman keseluruh Indonesia dan garansi pengembalian barang jika pelanggan merasa tidak puas atas produk yang diterimanya. Situs ini mempunyai navigasi yang sederhana dan intuitif sehingga mempercepat dan mempermudah proses belanja. Setelah produk yang diinginkan ditempatkan ke tas belanja, maka pembeli akan mendapatkan beberapa pilihan untuk metode pembayaran. Setelah pemesanan berhasil, Zalora akan segera memberikan laporan tentang status pemesanan pembeli. Semua pembeli akan menerima nomor pelacak produk yang memudahkan pembeli untuk melacak produk mereka hingga barang sampai ke tangan pembeli. Berdasarkan pada penelitian acuan yang dilakukan oleh Delafrooz et al.,(2010), responden yang dpilih dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Dinoyo Surabaya. Universitas Katolik Widya Mandala Dinoyo sebagai alah satu Universitas besar di Surabaya. Widya Mandala Dinoyo memiliki banyak mahasiswa yang konsen terhadap teknologi online. Untuk itu, melalui penelitian ini akan banyak memberikan manfaat bagi pelaku bisnis online terkait dengan sikap mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Dinoyo Surabaya terhadap online shopping.
(Dari berbagai sumber)

